PENERAPAN METODE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR DITINJAU DARI KEMAMPUAN MEMORI DAN BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA BIOLOGI KELAS VIII SMP N 1 KEBAKKRAMAT TAHUN AJARAN 2010/2011

PENERAPAN METODE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR  DITINJAU DARI KEMAMPUAN MEMORI DAN BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA BIOLOGI  KELAS VIII SMP N 1 KEBAKKRAMAT TAHUN AJARAN 2010/2011

 

 

Proposal Penelitian Tindakan Kelas

Disusun Guna Melengkapi Mata Kuliah Penelitian Pendidikan Biologi

Program Studi Pendidikan Biologi

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

RETNO WULANDARI

A 420 070 015

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2010


  1. A. Latar Belakang Masalah

Peningkatan mutu pendidikan merupakan suatu masalah yang menuntut suatu perhatian, karena pendidikan memegang peranan penting bagi kelangsungan hidup manusia. Peningkatan mutu pendidikan dari tahun ke tahun selalu diupayakan baik pendidikan pada tingkat dasar, menengah, dan perguruan tinggi. Pembenahan itu dilaksanakan disegala bidang, seperti : sarana atau fasilitas, kurikulum, maupun tenaga pendidik atau guru.

Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan IPA Biologi yaitu dengan menggunakan pembelajaran aktif, dimana siswa melakukan sebagian besar kegiatan selama proses pembelajaran. Belajar aktif merupakan langkah cepat, menyenangkan, mendukung dam menarik hati dalam belajar (Melvin, 2001). Proses belajar aktif berpusat pada siswa , selama proses pembelajaran yang paling penting siswa dapat memecakan masalah sendiri, menemukan contoh-contoh, mencoba keterampilan baru, dan melaksanakan tugas tergantung pada pengetahuan yang telah mereka miliki atau yang akan dicapai.

Ilmu pengetahuan alam khususnya biologi merupakan bidang studi yang menduduki peranan penting dalam pendidikan. Sebagai bukti adalah pelajaran biologi diberikan kepada semua jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Dasar sampai tingkat lanjut. Banyak siswa beranggapan bahwa mata pelajaran biologi merupakan ilmu hafalan sehingga sulit untuk dipahami. Padahal sulit tidaknya pelajaran itu tergantung pada siswa sendiri dalam menerima pelajaran. Oleh sebab itu bagaimana cara guru meyakinkan siswa bahwa pelajaran biologi tidak sulit seperti yang mereka bayangkan sangatlah penting, karena anggapan siswa terhadap mata pelajaran biologi dapat mempengaruhi proses dan  keberhasilan siswa dalam belajar biologi.

PTK merupakan suatu penelitian tindakan yang akar permasalahannya muncul di kelas dan dirasakan langsung oleh guru yang bersangkutan. sehingga sulit dibenarkan jika ada anggapan bahwa permasalahan dalam penelitian tindakan kelas muncul dari lamunan peneliti. Dalam PTK, peneliti atau guru dapat melihat sendiri praktik pembelajaran atau bersama dengan guru lain dia dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari segi aspek interaksinya dalam proses pembelajaran. Dalam PTK, guru secara refleksi dapat menganalisisnya, mensintesis terhadap apa yang telah dilakukan di kelas. Dalam hal ini berarti dengan melakukan PTK, pendidik dapat memperbaiki praktik-praktik pembelajaran sehinga menjadi lebih efektif (Supardi, 2006).

Pembelajaran yang menuntut siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dengan memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar (Nurhadi, 2004). Dalam proses pembelajaran guru harus memilih dan menggunakan metode mengajar yang tepat, dimana pemilihan suatu metode perlu memperhatikan beberapa hal, seperti : materi yang disampaikan, tujuan pembelajaran, waktu yang tersedia, jumlah siswa, mata pelajaran, fasilitas, dan kondisi siswa dalam pembelajaran serta hal-hal yang berkaitan dengan keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran. Guru sebagai seorang yang professional, guru harus mempunyai pengetahuan dan persediaan strategi-strategi pembelajaran karena tidak semua strategi yang sudah diketahui dapat diterapkan diruang kelas.

Ada banyak metode dalam cooperative learning, dimana setiap metode memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Metode dalam cooperative learning diantaranya adalah jigsaw. Metode jigsaw merupakan salah satu metode dalam pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal (Isjoni, 2007:53). Metode jigsaw menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara. Metode ini bertujuan untuk memperkaya pengalaman siswa dalam menyelesaikan permasalahan secara berkelompok. Pembelajaran kooperatif dengan metode jigsaw menuntut siswa untuk dapat mengembangkan daya pikir, daya inisiatif, dan kreatifitas. Siswa lebih bebas bertanya kepada teman satu kelompoknya biasanya enggan bertanya pada guru apabila ada kesulitan dalam belajar. Anggota kelompok dalam jigsaw seharusnya heterogen, baik dalam segi kemampuan maupun karakteristiknya sehingga manfaat belajar kelompok lebih optimal dan prestasi yang dicapai lebih maksimal.

Keberhasilan tujuan pembelajaran bukan hanya ditentukan dari penggunaan strategi tertentu dalam pembelajaran, tetapi ada faktor-faktor lain yang turut berperan dalam meningkatkan prestasi belajar siswa, diantaranya adalahkemampuan memori. Setiap siswa mempunyai kemampuan memori yang berbeda, hal ini disebabkan oleh latar belakang dan keadaan siswa yang berbeda-beda. Sehingga dalam belajar atau mempelajari ilmu pengetahuan, siswa perlu didukung oleh kemampuan memori. Memori adalah hasil dari belajar dan memori tidak ada tanpa belajar. Mengingat adalah proses pembelajaran yang berkaitan dengan pemahaman dan penggunaan apa yang didengar dan dilihat dengan baik. Mengingat juga merupakan suatu kemahiran untuk mengulang kembali dengan menyebut atau menulis fakta dan kejadian yang terjadi di masa lalu.

Selain itu efektivitas pembelajaran banyak tergantung kepada kesiapan dan cara belajar yang dilakukan oleh siswa itu sendiri, baik yang dilakukan secara mandiri maupun kelompok. Seperti yang dikemukakan Mel Silbermen dalam active learning ( 2001 ) bahwa gaya belajar itu ada tiga yaitu visual, auditory, dan kinesthetik. Gaya belajar visual berpusat pada indra mata atau dengan kata lain dengan cara melihat. Untuk gaya belajar auditory berpusat pada indra telinga yaitu dengan mendengar, sedangkan untuk gaya belajar kinesthetic adalah mengedepankan aktivitas biasanya dengan mencatat.

Terdapat beberapa permasalahan yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Permasalahan tersebut antara lain : siswa selalu ramai pada saat pembelajaran berlangsung, sehingga konsentrasi siswa tidak berfokus, siswa kurang tertarik dengan cara guru menyampaikan materi dengan ceramah sehingga siswa cepat bosan, tidak ada keberanian siswa dalam mengajukan pertanyaan, hanya sedikit saja yang berani bertanya, kurangnya motivasi belajar siswa, rendahnya prestasi belajar siswa, dalam hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai ulangan harian.

Berdasarkan pemikiran untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada pembelajaran ipa khususnya materi pokok ciri-ciri makhluk hidup, perlu adanya metode pembelajaran yang tepat, sesuai dengan kemampuan memori dan gaya belajar siswa. Pada pokok bahasan ciri-ciri makhluk hidup banyak materi yang nenuntut pemahaman siswa seperti bagaimana perbedaan gerak pada hewan dan tumbuhan dan ciri-ciri makhluk hidup lainnya. Penggunaan jigsaw dalam pembelajaran diatas merupakan salah satu langkah untuk mencapai prestasi belajar siswa yang lebih baik, dimana pada materi ini sangat membutuhkan kemampuan untuk mengingat isi materi itu sendiri. Oleh karena itu, dalam penelitian ini juga meninjau dari aspek kemampuan memori dan gaya belajar siswa.

Dari masalah yang muncul tersebut diharapkan dapat dipecahkan, sehingga keberhasilan dalam proses pembelajaran di sekolah dapat tercapai. Proses pembelajaran akan lebih efektif apabila siswa ikut aktif dalam proses pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas maka peneliti akan melakukan  penelitian yang berjudul “ PENERAPAN METODE JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR  DITINJAU DARI KEMAMPUAN MEMORI DAN BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA BIOLOGI  KELAS VIII SMP N 1 KEBAKKRAMAT TAHUN AJARAN 2010/2011 ”

 

  1. B. Pembatasan Masalah

Agar masalah ini dapat dikaji secara mendalam, maka perlu adanya pembatasan ruang lingkup. Adapun pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Subjek Penelitian

Subyek penelitian yaitu penerapan metode jigsaw pada pembelajaran IPA Biologi

  1. Objek Penelitian

Obyek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP N 1 Kebakkramat Tahun Ajaran 2010/2011.

  1. Parameter

Parameter yang digunakan adalah ditunjukkan dengan adanya peningkatan prestasi belajar yang ditinjau dari kemampuan memori dan belajar siswa

 

  1. C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maslah dan identifikasi masalah yang dilakukan, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Apakah penerapan Metode Jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar yang ditinjau dari kemampuan memori dan belajar siswa pada pembelajaran IPA Biologi Kelas VIII SMP N 1 Kebakkramat Tahun Ajaran 2010/2011?

 

  1. D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar yang ditinjau dari kemampuan memori dan belajar siswa pada pembelajaran IPA Biologi Kelas VIII SMP N 1 Kebakkramat Tahun Ajaran 2010/2011

 

  1. E. Manfaat Penelitian
  2. Manfaat teoritis
    1. Untuk mengetahui pengaruh metode jigsaw ditinjau dari kemampuan memori dan gaya belajar siswa.
    2. Untuk  menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam mendukung teori-teori yang telah ada sehubungan dengan masalah yang diteliti.
  3. Manfaat praktis
    1. Sebagai masukan kepada tenaga pendidik agar lebih mencermati dalam menentukan metode pembelajaran, sehingga dapat mencapai tujuan dengan baik.
    2. Memberikan masukan pemilihan model pembelajaran yamg diharapkan lebih memberikan efektivitas pembelajaran.
    3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bagi penelitian lain untuk melakukan pengembangkan penelitian yang sejenis.

 

  1. F. Landasan Teori
  2. 1. Kajian Teori

Sri Sulasni (2008), dalam skripsinya “ Perbedaan Prestasi Belajar Antara Pembelajaran Metode Jigsaw Dan Tanya Jawab Mata Pelajaran Ekonomi Pada Siswa Kelas VIII SMP N 1 Bojonegoro Tahun Ajaran 2007/2008 “. Menyimpulkan bahwa metode jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan metode Tanya jawab. Berdasarkan hasil penelitian di atas penulis ingin meneliti berkaitan dengan pembelajaran biologi menggunakan jigsaw ditinjau dari kemampuan memori dan gaya belajar siswa.

  1. 2. Belajar

Menurut Gage dalam Syaiful Sagala (2004: 13), belajar adalah sebagai suatu proses dimana suatu organism berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman, sedangkan menurut Lester D. Crow dalam Syaiful Sagala (2004: 14), belajar merupakan upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap-sikap. Belajar dikatakan berhasil apabila seorang memulai kembali materi yang telah dipelajarinya, belajar seperti ini disebut rote learning, jika yang telah dipelajari mampu disampaikan dan diekspresikan dalam bahasa sendiri disebut over learning.

Ada beberapa macam teori belajar yang mendukung pembelajaran kooperatif adalah.

  1. Teori belajar piaget

Menurut piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetic yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis dalam bentuk perkembangan system syaraf. Dengan makin bertambahnya umur seseorang maka makin komplekslah susunan syarafnya dan semakin meningkat pula kemampuannya. Hal ini berarti bahwa daya piker atau kekuatan mental anak yang berbeda usianya akan berbeda pula secara kulitatif (Asri budiningsih, 2005 : 97).

Slavin menegaskan bahwa teori perkembangan piaget mewakili konstruktivisme, yang memandang perkembangan kognitif sebagai suatu proses dimana anak secara aktif membangun system makna dan pemahaman realitas melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi mereka. Hal ini berarti bahwa anak-anak mengkonstruksi pengetahuan secara terus menerus dengan mengasimilasi dan mengakomodasi informasi-informasi baru. Sumbangan penting mengkonstruk dalam penyelesaian tugas-tugas secara individu dan secara kelompok saat siswa bekerja dalam kelompok.salah satu syarat keanggotaan kelompok balajar adalah mempertimbangkan kemajuan perkembangan anak. Dalam kelompoknya siswa saling berdiskusi tentang masalah-masalah yang menjadi tugas kelompoknya masing-masing. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar yang mendapat kesulitan pada saat mereka mengarjakan tugas.

  1. Teori belajar vygotsky

Menurut vygotsky, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang sesuai dengan teori sosiogenesis. Dimensi kesadaran sosial bersifat primer, sedangkan dimensi invidualnya bersifat derivative atau merupakan turunan dan bersifat sekunder. Artinya, pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial diluar dirinya. Teori vygotsky lebih tepet disebut dengan pendekatan konstruktivisme, maksudnya perkembanmgan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga oleh lingkungan sosial yang aktif pula.

Konsep-konsep penting dalam dalam teori ini adalah genetic low of development, zona of proximal development, dan mediasi mampu membuktikan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya.

  1. Teori motivasi

Motivasi diartikan sebagai kekuatan (energy) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi interistik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik). Abin Syamsudin Makmun (2003) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari bebrapa indicator, diantaranya : (1) durasi kegiatan, (2) frekuensi kegiatan, (3) persistensi pada kegiatan, (4) ketabahan, keuletan, dan kemampuan dalam menghadapi rintangan dan kesulitan, (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan, (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dari kegiatan yang dilakukan, (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang divapai dari kegiatan yang dilakukan, (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.

  1. Teori belajar bermakna ausabel

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu, demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur kognitif itu stabil dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang sahih dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat belajar dan retensi.

  1. Teori belajar gagne

Gagne menyebutkan adanya lima macam hasil belajar yaitu : (1) keterampilan intelektual atau pengetahuan procedural yang diperoleh melalui materi yang disajikan di sekolah, (2) strategi kognitif yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah baru dengan jalan mengatur proses internal, (3) informasi verbal yaitu kemampuan untuk mendiskripsikan sesuatu dengan kata-kata dengan jalan mengatur informasi yang relevan, (4) keterampilan motorik yaitu kemampuan untuk melaksanalan dan mengkoordinasi gerakan-gerakan yang berhubungan dengan otot, (5) sikap yaitu kemampuan intern mempengaruhi tingkah laku seseorang dan didasari oleh emosi kepercayaan serta faktor intelektual.

  1. 3. Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah laku tertentu pula. Sebuah proses pembelajaran yang baik, paling tidak harus melibatkan 3 aspek, yaitu : aspek psikomotorik lewat adanya praktikum-praktikum dengan tujuan terbentuknya keterampilan eksperimental. Aspek kognitif lewat berbagai aktifitas penalaran dengan tujuan adalah terbentuknya penguasaan intelektual. Sedangkan aspek afektif dilakukan lewat aktifitas pengenalan dan kepekaan lingkungan dengan tujuan terbentuknya kematangan emosional.

Untuk menghasilkan sebuah proses pembelajaran yang baik, maka paling tidak harus terdapat 4 tahapan, yaitu : tahap barbagi dan mengolah informasi, kegiatan dikelas, laboratorium, perpustakaan adalah termasuk dalam aktifitas dalam bentuk PR, tugas, paper, diskusi, tutorial, adalah bagian dari tahap internalisasi; mekanisme balikan, kuis, ulangan/ujian serat komentar dan survey adalah bagian dari proses balikan; evaluasi, aktifitas assessment yang berdasar pada test ataupun tanpa test termasuk assessment diri adalah bagian dari proses evaluasi. Evaluasi dapat dilakukan secara peer review ataupun dengan survey terbatas.

 

 

  1. 4. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Pembelajaran kooperatif menciptakan interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community), siswa tidak hanya belajar dari guru tetapi juga dari sesame siswa (Nurhadi, 2005:112). Tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 1994).

Ada lima unsur yang harus ditrapkan untuk mencapai hasil yang maksimal dalam pembelajaran kooperatif : a). Saling ketergantungan positif, b). Tanggung jawab perseorangan, c). Tatap muka, d). Komunikasi antar anggota, e).  Evaluasi proses kelompok (Anita Lie, 2005:31).

  1. 5. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Menurut Arikunto (2006) penelitian tindakan kelas dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: 1) Perencanaan (Planning) menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. 2) Tindakan (Acting) pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan mengenai tindakan di kelas. 3) Pengamatan (Observising) kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. 4) Refleksi (Reflecting) merupakan kegiatan untuk mengemukakan apa yang sudah dilakukan.

PTK merupakan suatu penelitian tindakan yang akar permasalahannya muncul di kelas dan dirasakan langsung oleh guru yang bersangkutan sehingga sulit dibenarkan jika ada anggapan bahwa permasalahan dalam penelitian tindakan kelas muncul dari lamunan peneliti. Dalam PTK, peneliti atau guru dapat melihat sendiri praktik pembelajaran atau bersama dengan guru lain dia dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari segi aspek interaksinya dalam proses pembelajaran. Dalam PTK, guru secara refleksi dapat menganalisisnya, mensintesis terhadap apa yang telah dilakukan di kelas. Dalam hal ini berarti dengan melakukan PTK, pendidik dapat memperbaiki praktik-praktik pembelajaran sehinga menjadi lebih efektif (Supardi, 2006).

  1. 6. Jigsaw

Pembelajaran kooperatif jigsaw peertama kali dikembangkan oleh Aranson, dkk di Universitas Texas. Metode pembelajaran kooperatif jigsaw merupakan metode pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang dengan karakteristik yang heterogen dan setiap anggota tanggung jawab untuk mrempelajari masalah tertentu dari masalah yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Nurhadi, 2005:117).

Isjoni (2007:54) dalam pembelajaran jigsaw, kelas dibagi menjadi suatu kelompok kecil yang heterogen yang diberi nama tim jigsaw dan materi dibagi sebanyak kelompok menurut anggota timnya. Tiap-tiap tim diberi satu set materi yang lengkap dan masing-masing invidu ditugaskan untuk memilih topic mereka. Kemudian siswa dipisahkan menjadi kelompok ahli atau rekan yang terdiri dari seluruh siswa dikelas yang mempunyai bagian informasi yang sama.

Di grup ahli, siswa saling membantu mempelajari materi dan mempersiapkan diri untuk tim jigsaw. Setelah siswa mempelajari materi dari grup ahli, kemudian mereka kembali ke tim jigsaw untuk mengajarkan materi tersebut kepada teman setim dan berusaha untuk mempelajari sisa materi. Sebagai kesimpulan dari pelajaran tersebut siswa dengan bebas memilih kuis dan diberikan nilai individu.

Langkah-langkah dalam menggunakan model pembelajaran jigsaw dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut : semua siswa dalam kelas dibagi dalam kelompok-kelompok dengan anggota sekitar 5 siswa. Setiap kelompok diberi lembar kegiatan berisis pertanyaan-pertanyaan yang disesuaikan dengan jumlah anggota kelompoknya, sehingga setiap anggota kelompok berusaha menjawab satu pertanyaan dan memahami betul. Anggota kelompok yang sudah bisa menjawab dan memahami, menjelaskan kepada anggota lain dalam satu kelompok dalam bentuk kesimpulan bersama. Guru membimbing diskusi kelompok dan diskusi kelas untuk mendapatkan kesimpulan akhir. Diberikan tes kognitif sebagai ulangan harian.

Keunggulan pembelajaran kooperatif jigsaw adalah meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi maraca juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Meningkatkan bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan.

Metode pembelajaran jigsaw mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari metode jigsaw adalah membantu peserta didik (siswa) dalam memahami dan menerapkan konsep-konsep. Menumbuhkan kemampuan kerjasama. Dapat berfikir kritis dan aktif, mengembangkan keterampilan sosial, dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas akademik. Siswa diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk aktif mengkontruksi pengetahuannya. Memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang. Belajar saling menghargai atau menerima keragaman. Bertukar informasi dan belajar bertanggung jawab. Dapat mencegah keagresifan dalam sistem kompetisi, efektif dan efisien. Kekurangan dari metode jigsaw adalah sulit untuk menguasai kelas, sulit mengorganisasikan tempat duduk. Murid cenderung ramai dan tidak berdiskusi. Jika ada salah salah satu anggotakelompok yang tidak kompak maka akan mempengarui nilai kelompoknya (Ibrahim, 2000)

  1. 7. Kemampuan Memori

Seseorang secara genetis telah lahir dengan intelegensi yang bersumber dari otaknya. Struktur otak telah ditentukan secara genetis, namun berfungsinya otak tersebut menjadi kemampuan umum yang disebut intelegensi, dimana sangat dipengaruhi oleh interaksi dengan lingkungannya. Pada kala bayi lahir ia telah dimodali 100-200 milyar sel otak dan siap memproseskan beberapa trilyun informasi. Ternyata dari berbagai penelitian bahwa pada umumnya hanya kurang lebih 5% neuron otak berfungsi penuh (Anonim, 2008).

Belajar adalah proses menghasilkan pengetahuan, sedangkan memori adalah hasil yang kita dapat (pengetahuan) sepanjang waktu. Dalam belajar melibatkan suatu proses atau kegiatan yang dilakukan seseorang dalam memperoleh pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh tersebut akan disimpan diotak yang berupa memori. Jadi memori iru adalah hasil dari belajar, memori tidak ada tanpa belajar.

Mengingat adalah proses pembelajaran yang berkaitan dengan pemahaman dan penggunaan apa yang didengar dan dilihat dengan baik. Mengingat juga merupakan suatu kemahiran untuk mrngulang kembali dengan menyebut atau menulis fakta dan kejadian yang terjadi di masa lalu.

Teknik mengingat yang banyak dilakukan orang adalah dengan mengulang informasi yang masuk. Pengulangan informasi akan tersimpan   lebih lama dan lebih lama untuk diingat kembali. Proses pengulangan tersebut berkaitan erat dengansistem ingatan yang ada pada manusia. Proses ingatan terbagi dalam tiga langkah : encoding/mengumpulkan informasi yang akan diingat , menyimpan informasi, dan decoding (mengingat kembali informasi).

Menurut Atkinson dan Shiffirin dalam anonim (2008). System ingatan manusia dibagi 3 bagian yaitu : a) sensori memori mencatat informasi atau stimulasi yang masuk melalui salah satu atau kombinasi panca indra yaitu secara visual melalui mata, pendengaran melalui telinga, bau melalui hidung, rasa melalui lidah, dan rabaan melalui kulit, b) system ingatan jangka pendek menyimpan informasi atau stimuli selama kurang lebih 30 detik dan hanya sekitar tujuh informasi dapat dipelihara dan dapat disimpan di system ingatan jangka pendek dalam suatu saat, c) ingatan jangka panjang.

Bagi pendidik, cara mengingat secara efektif dan efisien perlu dilatihkan kepada peserta didik. Pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada peserta didik meliputi 3 hal yaitu : recall yaitu mengingat kembali diluar kepala, recognition yaitu mengenal kembali setelah melihat atau mendengar, relearning yaitu mempelajari kembali. Dari ketiga hal tersebut, yang paling bagus jika peserta didik dapat mengingat suatu hal diluar kepala (Anonim, 2008).

Memori dapat dilihat sebagai suatu hirarki yang terdiri dari tiga system memori yaitu : memori procedural, memori semantic, dan memori episodic. Memori procedural merupakan memori mengenai bagaimana caranya melakukan sesuatu, misalnya memori mengenai bagaimana caranya mengupas pisang lalu memakannya. Memori ini tidak hanya dimiliki manusia, melainkan dimiliki oleh semua makhluk yang mempunyai kemampuan belajar, misalnya binatang yang mengingat bagaimana caranya melakukan acrobat di sirkus. Memori semantic merupakan memori mengenai fakta-fakta, misalnya memori mengenai ibukota-ibukota Negara. Kebanyakan dari memori semantic berbentuk verbal. Memori episodic merupakan memori mengenai peristiwa-peristiwa yang pernah dialami secara pribadi oleh individu di masa yang lalu. Misalnya memori mengenai pengalaman masa kecil seseorang.

  1. 8. Gaya Belajar

Setiap siswa memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Beberapa gaya belajar siswa adalah gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik.

  1. Gaya belajar visual

Bagi siswa yang bertipe belajar visual, yang memgang peranan penting adalah mata atau penglihatan (visual), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak atau dititikberatkan pada media, ajak siswa ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Ciri-cirinya adalah bicara agak cepat, mementingkan penampilan dalam berpakaian atau presentasi, tidak mudah terganggu olae keributan, mengingat yang dilihat dari pada yang di dengar, lebih suka membaca dari pada dibacakan, pembaca cepat dam tekun, sering kali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata, lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato, lebih suka music dari pada seni, mempunyai masalah untuk mengingat instruksi vergbal kecuali jika ditulis, dan sering kali minta bantuan orang untuk mengulanginya, mengingat dengan asosiasi visual.

  1. Gaya belajar auditif

Siswa yang bertipe auditif mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga (alat pendengarannya), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga kealat pendengarannya. Karena akan sia-sialah guru yang menerangkan kepada siswa tuli, walaupun guru tersebut menerangkan dengan lantang, jelas dan dengan intonasi yang tepat. Ciri-cirinya adalah sat bekerja suka bicara kepada diri sendiri, penampilan rapi, mudah terganggu oleh keributan, belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat, senang membaca dengan keras dan mendengarkan, menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca, biasanya ia pembicara yang fasih, lebih pandai mengeja dengan keras dari pada menuliskannya, lebih suka gurauanlisan daripada membaca komik, mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visual (seperti memotong bagian-bagian hingga sesuai satu sama lain), berbicara dalam irama yang terpola, dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara.

  1. Gaya belajar kinestetik

Siswa yang bertipe belajar ini balajarnya melalui gerak dan sentuhan. Ciri-cirinya adalah berbicara perlahan, penampilan rapi tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan, belajar melalui memanipulasi dan praktek, menghafal dengan cara berjalan dan melihat, menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca, merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam berbicara, menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca, menyukai permainan yang menyibukan, tidak dapat mengingat geografi kecuali jika mereka memang pernah ada di tempat itu, menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka, menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.

  1. 9. Prestasi Belajar

Hasil belajar adalah hasil yang dicapai seseorang setelah melaksanakan kegiatan belajar dan merupakan penilaian yang dicapai seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana bahan pelejaran atau materi yang diajarkan sudah diterima siswa, untuk dapat menentukan tercapai tidaknya tujuan pembelajaran dilakukan usaha untuk menilai hasil belajar, penilaian ini bertujuan untuk melihat kemajuan peserta didik dalam penguasaan materi yang telah dipelajari dan ditetapkan  ( Suharsani Arikunto, 2006).

Prestasi belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes prestasi belajar. Menurut Saifudin Anwar (2005:8-9) mengemukakan tentang tes prestasi belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkapkan keberhasilan seseorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes prestasi belajar berupa tes yand disusun secara terencana untuk mengungkap performasi maksimal subyek dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam kegiatan pendidikan formaln tes prestasi belajar dapat berbentuk ulangan harian, tes formatif, tes sumatif.

Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalan memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknyaseseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung. Adapun prestasi da[pat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan.

Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaru hi prestasi belajar antara lain faktor yang terdapat dalam diri dalam siswa (faktor intern) dan faktor yang mempengaruhi dari luar diri siswa (faktor ekstern). Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor kelurga, sekolah, masyarakat, dan sebagainya. Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu kecerdasan /intelegensi, bakat, minat, dan motivasi. Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya diluar diri siswa yaitu beberapa pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya, dan sebagainya (Sunarto, 2009).

Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasi dari proses belajar. Prestasi belajar seseorang mencerminkan tingkat keberhasilan dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau rapot pada setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar.

Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi meramalkan sukses terhadap prestasi belajar. Namun IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin sukses di masyarakat. Fungsi prestasi belajar anytara lain sebagai indicator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik sebagai lambing pemuasan hasarat ingin tahu dapat dijadukan indicator daya serap anak didik.

 

  1. G. Kerangka Berfikir

Pembelajaran kooperatif adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Pembelajaran kooperatif menciptakan interaksi yang asah, asih, dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community), siswa tidak hanya belajar dari guru tetapi juga dari sesame siswa

Dalam proses pembelajaran terdapat beberapa yang harus dibenahi baik guru maupun dari siswa. Dari guru seperti penggunaan metode, strategi atau pendekatan pembelajaran yang kurang tepat sesuai dengan materi yang akan diajarkan, sehingga proses pembelajaran kurang maksimal dan hasil yang diperoleh juga kurang memuaskan. Sedangkan masalah yang berasal dari siswa seperti kurangnya motivasi dalam mengikuti pelajaran, siswa yang kurang aktif, dan seringkali siswa menganggap mata pelajaran tersebut tidak penting.

Dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditinjau dari kemampuan memori dan belajar siswa diperlukan adanya penggunaan metode, strategi, atau pendekatan pembelajaran yang tepat. Salah satu metode yang digunakan adalah jigsaw. Pembelajaran dengan metode jigsaw dapat diterapkan dalam mata pelajaran biologi karena dapat digunakan untuk meningkatkan peran aktif siswa dikarenakan metode ini melibatkan siswa secara menyeluruh di dalam kelas. Sehingga dapat meningkatkan kemempuan memori dan belajar selama proses pembelajaran yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa baik dari segi afektif, kognitif, maupun psikomotorik.

Input

(siswa)

Berdasarkan pemikiran di atas dapat dibuat bagan sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

  1. H. Hipotesis

Ho : Penerapan Metode Jigsaw tidak dapat meningkatkan prestasi belajar yang ditinjau dari kemampuan memori dan belajar siswa pada pembelajaran IPA Biologi Kelas VIII SMP N 1 Kebakkramat Tahun Ajaran 2010/2011

H1 : Penerapan Metode Jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar yang ditinjau dari kemampuan memori dan belajar siswa pada pembelajaran IPA Biologi Kelas VIII SMP N 1 Kebakkramat Tahun Ajaran 2010/2011

 

  1. I. Setting Penelitian
  2. Tempat dan Waktu Penelitian
    1. Tempat

Penelitian dilaksanakan di SMP N 1 Kebakkramat, dengan alamat JL. Raya Solo – Sragen  Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karangganyar.

  1. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksnakan pada bulan Agustus – November 2010

  1. Variabel
    1. Variabel Bebas    :   Penerapan Metode Jigsaw
    2. Variebel Terikat   : Prestasi Belajar yang ditinjau dari kemampuan memori dan belajar siswa Kelas VIII SMP N1 Kebakkramat Tahun Ajaran 2010/ 2011.

Adapun tahap-tahap perincian kegiatan pokok yang dilakukan adalah sebagai-mana dipaparkan dalam tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Perincian Waktu Penelitian

 

No

 

Jadwal penelitian

Bulan Pelaksanaan Penelitian Tahun 2010
Agustus September Oktober Novenber
2010 2010 2010 2010
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Tahap Persiapan x x x x                        
  Penyusunan proposal     x                          
Mengurus Perijinan       x                        
Menyusun Instrumen         x x x                  
2. Tahap pelaksanaan             x x x x            
  Pengumpulan Data                     x          
Analisis Data                     x x        
Perumusan Hasil Penelitian                       x        
3. Tahap penyelesaian                         x x x x
  Penyelesaian kerangka laporan                         x      
Penulisan Laporan                           x    
Revisi dan Editing Laporan                             x  
Penyerahan Laporan                               x

 

 

 

  1. J. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah guru kelas VIII dan Kepala sekolah SMP Negeri 1 Kebakkramat Tahun 2010 sebagai subyek yang membantu dalam pe-rencanaan dan pengumpulan data penelitian. Seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kebakkramat sebagai subjek penelitian yang menerima tindakan. Peneliti sebagai subjek yang bertugas merencanakan, mengumpulkan data, meng-analisis data, dan membuat kesimpulan penelitian.

 

  1. K. Sumber Data

Menurut Arikunto (2006:129) sumber data dalam penelitian adalah ”subyek dari mana data diperoleh”. Data penelitian yang dikumpulkan berupa informasi tentang keaktifan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Data penelitian ini dikumpulkan dari berbagai sumber yang meliputi:

  1. Informan atau nara sumber, yaitu guru dan siswa  kelas VIII SMP Negeri 1 Kebakkramat.
  2. Tempat dan peristiwa berlangsungnya aktivitas pembelajaran materi dalam hal ini lokasinya adalah SMP Negeri 1 Kebakkramat.

 

  1. L. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sistematik oleh peneliti untuk memperoleh data-data dan keterangan yang dibutuhkan dalam suatu penelitian. Dalam mengumpulkan data diperlukan beberapa metode yang sesuai dengan masalah yang akan diteliti, adapun metode pengumpulan data yang diperlukan antara lain:

  1. Metode Wawancara

Merupakan interaksi antara peneliti dengan guru mata pelajaran Biologi untuk membicarakan mengenai permasalahan yang dihadapi siswa selama proses pembelajaran.

  1. Metode Observasi

Observasi adalah suatu teknik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti. Observasi ini diarahkan kepada tindakan guru atau siswa dalam proses pembelajaran. Observasi dilakukan di kelas yang menjadi subjek penelitian untuk mendapatkan gambaran secara langsung tentang kegiatan belajar siswa di kelas. Dengan observasi, dapat diketahui kegiatan siswa dalam mempersiapkan, memperhatikan dan menanggapi penjelasan dari guru selama proses pembelajaran berlangsung.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi langsung. Menurut Nawawi (1992:74) “Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala pada obyek penelitian”. Melalui observasi peneliti dapat mengetahui kegiatan siswa dalam mempersiapkan, memperhatikan dan menang-gapi penjelasan dari guru selama proses pembelajaran. Dalam penelitian ini metode observasi digunakan untuk mengamati keaktifan siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Kebakkramat Tahun 2010 pada saat proses penerapan metode pembelajaran jigsaw dalam mata pelajaran IPA Biologi.

  1. Metode Tes

Metode test dilakukan dengan memberikan permasalah untuk mengetahui kemampuan bertanya dan merespon pertanyaan dan hasil belajar Biologi siswa.

  1. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi dalam penelitian dilakukan yaitu untuk memperoleh daftar nama siswa, nomor absent, hasil belajar serta gambar selama proses pembelajaran siswa kelas VIII.

 

  1. M. Validitas Data

Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengetahui validitas data (kestabilan data). Penelitian ini menggunakan dua macam triangulasi, yang pertama triangulasi sumber data yang berupa informasi dari guru dan siswa tentang tindakan yang diterapkan. Kedua triangulasi teknik atau metode pengum-pulan dari hasil observasi.

  1. N. Analisis Data

Langkah-langkah analisis data menurut Miles dan Huberman (1992:15-19) adalah sebagai berikut:

  1. Pengumpulan data, yaitu mengumpulkan data di lokasi penelitian dengan me-lakukan observasi, wawancara, tes dan dokumentasi dengan menentukan strategi pengumpulan data yang dipandang tepat dan untuk menentukan fokus serta pendalaman data pada proses pengumpulan data berikutnya.
  2. Reduksi data, yaitu sebagai proses seleksi, pemfokusan, pengabstrakan, trans-formasi data kasar yang ada di lapangan langsung, dan diteruskan pada waktu pengumpulan data, dengan demikian reduksi data dimulai sejak peneliti mulai memfokuskan wilayah penelitian.
  3. Penyajian data, yaitu rakitan organisasi informasi yang memungkinkan pene-litian dilakukan. Dalam penyajian data diperoleh berbagai jenis, jaringan kerja, keterkaitan kegiatan atau tabel.
  4. Penarikan kesimpulan, yaitu dalam pengumpulan data, peneliti harus mengerti dan tanggap terhadap sesuatu yang diteliti langsung di lapangan dengan me-nyusun pola-pola pengarahan dan sebab-akibat.

Menurut Miles dan Huberman (1992:20) siklus analisis interaktif dapat digambarkan dalam bentuk skema berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Komponen-komponen Analisis Data:  Model Interaktif

 

  1. O. Prosedur Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas, dalam pelaksanaannya penelitian ini perlu adanya kerjasama dengan guru bidang studi Biologi untuk memperoleh hasil yang optimal melalui cara dan prosedur yang paling efektif. Mengacu pada teori mengenai penelitian tindakan kelas, maka rancangan penelitian disusun menggunakan prosedur sebagai berikut:

  1. Dialog Awal

Dialog awal merupakan percakapan awal guru dengan siswa untuk menuntun jalan pikir siswa ke pelajaran yang akan di ajarkan. Dialog awal dapat berupa peranyaan yang menumbuhkan ketertarikan atau motivasi siswa terhadap pelajaran.

  1. Perencanaan
    1. Mengumpulkan informasi mengenai hal yang berkaitan dengan karakteristik dan hasil belajar siswa dengan kesepakatan antara guru bidang studi Biologi dan peneliti.  Sehingga peneliti dapat menerapkan pembelajaran inkuiri.
    2. Membuat kesepakatan bersama guru bidang studi Biologi untuk menentukan materi yang akan diajarkan.
    3. c. Merancang program pembelajaran, yang meliputi rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), materi, soal, permainan, dan evaluasi berupa tugs atau post test.
    4. Persamaan persepsi antara guru dan peneliti mengenai materi yang akan disampaikan.
    5. Tindakan

Sebelum menerapkan pembelajaran inkuiri, peneliti hendaknya menyampaikan sebagian materi secara umum dengan metode ceramah terlebin dahulu. Pada tahap pelaksanaan tindakan, penelitian melaksanakan pembelajaran inkuiri sebagai suatu usaha yang mengarah kepada perbaikan proses pembelajaran. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan dua tahapan dalam pelaksanaan tindakan penelitian tindakan kelas, yaitu:

  1. Tahap Persiapan Penelitian

Peneliti terlebih dahulu menentukan tempat penelitian. Peneliti meminta surat ijin riset atau surat ijin melakukan penelitian kepada Biro Skripsi dan diserahkan kepada Kepala Sekolah untuk meminta persetujuan penelitian serta berkonsultasi dengan guru Biologi tentang langkah penelitian. Peneliti membuat silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

  1. Tahap Pelaksanaan Penelitian

Setelah menentukan kelas, kemudian melaksanakan pembelajaran dengan metode jigsaw. Proses pembelajaran dilaksanakan empat kali pertemuan. Setiap pertemuan memerlukan waktu 2 x 40 menit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anita Lie. 2005. Cooperative Learning : Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta : Grasindo

 

Anonim. 2008. Prestasi Belajar. ipotes.wordpress.com

 

Anonim. 2008. Pembelajaran Konstruktivisme Melalui Model Cooperative-Learning. http://www.scribd.com

 

Anonim. 2008. Gaya belajar. re-searchengines.com

 

Anonim. 2008. Bagaimana Gaya Belajar Anak Anda. pustakaniLna.com

 

Asri budiningsih. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta

 

Arikunto, Suharsimi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik Edisi Refisi VI. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Etin Solikhatin dan Raharjo. 2007. Cooperative Learning: Analisis model Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara

 

Hasibuan, J. J. 2006. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Ibrahim, Muslimin dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya Press.

 

Isjoni. 2007. Cooperative Learning: Mengembagkan kemampuan belajar berkelompok. Jakarta: Alfabeta

 

Miles, B. Mathew dan Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif (Buku Sumber tentang Metode-metode Baru). Jakarta: UIP.

 

Mel Silberman. 2001. Active Learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Yappendis

 

Nawawi, Hadari dan M. Martini. 1992. Instrumen Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

 

Noor Susanti. 2007. Efektifitas Pembelajaran Kooperatif STAD Media Komik Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Semester II SMP N 1 Grobogan Tahun Ajaran 2006/2007. Surakarta : UMS

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004. Jakarta: Grasindo

 

Ratna Wilis Dahar. 1988. Teori-Teori Belajar. Bandung PT. Gelora Aksara Pratama

 

Ridwan. 2008. Ketercapaian Prestasi Belajar. Ridwan.wordpress.com

 

Siti Djuwairiyah. 2007. Penerapan Metode Belajar Aktif Seba Membantu Meningkatkan Prestasi Belajar Pada Siswa Probolinggo. http://www.AsianBrain.com

 

Salvin Robert E. 2008. Cooperative Learning. Bandung: Nusa Media.

 

Sri Sulasni. 2008. Perbedaan PrestasiBelajar antara Pembelajaran Metode Jigsaw dan Tanya Jawab Mata Pelajaran Ekonomi pada Siswa Kelas VIII SMP N 1 Bogorejo Tahun Ajaran 2007/2008. Skripsi S1. Surakarta: UMS.

 

Suharsimi Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Saifudin Anwar. 2005. Pengertian Prestasi Belajar. http://sunartombs.wordpress.com

 

Sunarto. 2009. Pengertian Prestasi Belajar. http://sunartombs.wordpress.com

 

Supardi. 2006. PTK Beserta Sistematika Proposal dan Laporannya. Jakarta: Bina Aksara.

 

Syaiful Sagala. 2005. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabet.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Post navigation

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.104 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: